My Notes

Catatan penting hal-hal yang unik, motivasi, tips-tips kesehatan, curahan hati yang di kutip dari berbagai sumber

17 April 2012

Perempuan Yang Dicintai Suamiku

Kehidupan
pernikahan kami awalnya baik2 saja
menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu
terjadi konflik, tapi setelah menikah
Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku. Kami
tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai
subuh, baru pulang
kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami
sekolah. Tidurnya sangat
sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.
Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih
bangun. Karena waktu
pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang
dia tidak romantis, dan
tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan
sayang. Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang
pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun
hampir tidak pernah. Kalau
kami makan di meja makanberdua, kami asyik sendiri
dengan sendok
garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan
sendok garpu. Kalau hari libur, dia lebih sering hanya
tiduran
dikamar, atau main dengan anak2 kami, dia jarang
sekali tertawa lepas. Karena
dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas. Aku mengira rumah tangga kami
baik2 saja selama 8
tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, disuatu
hari yang terik, saat itu
suamiku tergolek sakit dirumah sakit, karena jarang
makan, dan sering jajan di kantornya, dibanding makan dirumah, dia kena
typhoid, dan
harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di
ususnya. Pada saat dia
masih di ICU, seorang perempuan datang
menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama meisha, temannya
Mario saat dulu kuliah. Meisha tidak secantik aku, dia
begitu sederhana, tapi
aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik
seperti yang dia
miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia
berbicara, seakan2 waktu berhenti berputar dan
terpana dengan kalimat2nya
yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki2
maupun perempuan
bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia
bercerita. Meisha tidak pernah kenal dekat dengan
Mario
selama mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario
sangat pendiam, sehingga
jarang punya teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada
pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan
mereka. Meisha yang bekerja di
advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang
sedang membuat iklan untuk
perusahaan tempatnya bekerja. Aku mulai mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan
yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja,
dia tersenyum manis
padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari
3x. Dia membelikan aku
parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering
termenung didepan komputernya. Atau termenung
memegang Hp-nya.
Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang
membingungkan. Suatu saat Meisha pernah datang
pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang
sepiring nasi beserta
lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga
mau aku suapi. Meisha masuk
kamar, dan menyapa dengan suara riangnya, " Hai
Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini ? tidak mau makan juga? uhh… dasar
anak nakal, sini piringnya, "
lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil
menyuapi Mario, tiba2 saja
sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan….aku
tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku,
seperti siang itu, tidak
pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya,
tidak pernah sedetikpun ! Hatiku terasa sakit, lebih sakit
dari ketika dia
membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan
berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit
setelah operasi caesar ketika aku
melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika
dia tidak mau
memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit
ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun
perkawinan kami kemarin.
Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka
mencumbu komputernya
dibanding aku. Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat
perempuan itu. Meisha begitu manis, dia bisa hadir
tiba2, membawakan donat buat
anak2, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia
mengajakku jalan2, kadang
mengajakku nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya
yang lucu2. Aku tidak pernah bertanya, apakah
suamiku
mencintai perempuan berhati bidadari itu? karena
tanpa bertanya pun aku sudah
tahu, apa yang bergejolak dihatinya. Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta, aku
tidak pernah menyangka, hatikupun akan mendung,
bahkan gerimis kemudian. Anak sulungku, seorang
anak perempuan cantik
berusia 7 tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya
sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email Papa nya, dan
memanggilku, " Mama,
mau lihat surat papa buat tante Meisha ?" Aku tertegun
memandangnya, dan membaca surat
elektronik itu, *Dear Meisha,* *Kehadiranmu bagai
beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah
merasakan jatuh cinta
seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima
karena kondisi yang
mengharuskan aku mencintainya, karena dia ibu dari
anak2ku.* *Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu
apakah aku sungguh2 mencintainya. Tidak ada
perasaan bergetar seperti
ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan rindu
yang tidak pernah padam
ketika aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti
perasaannya. Ketika konflik2 terjadi saat kami pacaran
dulu, aku sebenarnya
kecewa, tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya
bahwa dia bukanlah
perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa
hampa, meskipun aku menikahinya.* *Aku tidak tahu,
bagaimana caranya menumbuhkan
cinta untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh
secara alami, seperti
pohon2 beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari
pemiliknya. Seperti pepohonan di hutan2 belantara
yang tidak pernah
minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara
alami. Itu yang aku rasakan.* *Aku tidak akan pernah
bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang lain dan aku adalah laki2
yang sangat memegang
komitmen pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa
hampa, itu tidaklah mengapa,
asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia
bisa mendapatkan segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh
mendapatkan seluruh
hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku,
yang hanya aku berikan
untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita,
aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the only one in my
heart.* *yours,* *Mario* Mataku terasa panas. Jelita,
anak sulungku
memelukku erat. Meskipun baru berusia 7 tahun, dia
adalah malaikat jelitaku yang
sangat mengerti dan menyayangiku. Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah
bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain. Aku
mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku
menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat
itu aku simpan diamplop, dan
aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya. Mobil yang dia berikan untukku aku
kembalikan
padanya. Aku mengumpulkan tabunganku yang
kusimpan dari sisa2 uang belanja,
lalu aku belikan motor untuk mengantar dan
menjemput anak2ku. Mario merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja
dan minta dibelikan bermacam2
merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku.
Aku dulu memintanya
menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran,
sedangkan teman2ku sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak pernah
menginginkan aku menjadi
istrinya. Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia
tahu,
bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak
mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa dia tidak mengatakan saja,
bahwa dia tidak mencintai
aku dan tidak menginginkan aku ? itu lebih aku hargai
daripada dia cuma diam dan
mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa
malangnya nasibku. Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap
merawatnya dengan setia. Biarlah dia mencintai
perempuan itu terus didalam hatinya.
Dengan pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya
bahagia dengan mencintai
perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan
selalu mencintainya. ********** Setahun kemudian…
Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata
berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah merah
dan masih dipenuhi bunga. " *Mario, suamiku….* *Aku
tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja dikantormu, akan
membawaku pada cinta sejatiku.
Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan
tampak dingin. Betapa senangnya
aku ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku
mencintaimu, dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering
marah, ketika
kamu asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku
merasa diatas angin, ketika
kamu hanya diam dan menuruti keinginanku… Aku
pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang
hatimu dan kamu terlalu
mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja
untukku…..* *Ternyata aku keliru…. aku menyadarinya
tepat
sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari
seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya
menyukai Mario.* *Aku melihat matamu begitu terluka,
ketika berkata, "
kenapa, Rima ? Kenapa kamu mesti cemburu ? dia
sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi istriku ?"* *Aku tidak
perduli,dan berlalu dari hadapanmu
dengan sombongnya.* *Sekarang aku menyesal,
memintamu melamarku.
Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah
hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang
sempurna yang engkau inginkan.* *Istrimu,* *Rima"*
*D*i surat yang lain, *"………Kehadiran perempuan itu
membuatmu
berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai
terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu
untukku, seperti aku
melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari
kedua bola matamu saat
memandang Meisha……"* Disurat yang kesekian,
*"…….Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.* *Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan,
aku tidak
lagi marah2 padamu, aku tidak lagi suka membanting2
barang dan
berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu
kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalau menabung. Aku
tidak lagi suka
bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum
menyambutmu pulang kerumah.
Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan
sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak
kesal saat engkau tidak mau
aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur
disamping tempat
tidurmu, dirumah sakit saat engkau dirawat, karena
penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah…….* *Meskipun belum terbit
juga, sinar cinta itu dari
matamu, aku akan tetap berusaha dan
menantinya…….."* Meisha menghapus air mata yang
terus mengalir dari
kedua mata indahnya… dipeluknya Jelita yang tersedu- sedu disampingnya. Disurat terakhir, pagi ini…
*"…………..Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan
kami yang ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang
kerumah, tapi tahun ini aku
akan memaksamu pulang, karena hari ini aku akan
masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya
dirumah Bude Tati, sampai
kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang
hujannya deras sekali, dan aku
hanya mengendarai motor.* *Saat aku tiba dirumah
kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran dimatamu. Engkau memelukku, dan
menyuruhku
segera ganti baju supaya tidak sakit.* *Tahukah engkau
suamiku,* *Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu,
6 tahun
kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar
kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta
mulai bersemi dihatimu ?
………"* Jelita menatap Meisha, dan bercerita, " Siang itu
Mama menjemputku dengan motornya, dari
jauh aku melihat keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-
lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah
melihat wajah yang sangat bersinar dari
mama seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu
sering marah2
kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya
diseberang jalan, Ketika mama menyeberang jalan,
tiba2 mobil itu lewat dari
tikungan dengan kecepatan tinggi…… aku tidak sanggup
melihatnya terlontar,
Tante….. aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi
bergerak……" Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak.
Bocah cantik ini masih terlalu kecil
untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat
dewasa. Meisha mengeluarkan selembar kertas yang
dia print tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin
malam, dan tadinya
aku ingin Rima membacanya. *Dear Meisha,* *Selama
setahun ini aku mulai merasakan Rima
berbeda, dia tidak lagi marah2 dan selalu berusaha
menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh basah kuyup karena
kehujanan, aku sangat khawatir
dan memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa
beruntungnya aku memiliki
dia. Hatiku mulai bergetar…. Inikah tanda2 aku mulai
mencintainya ?* *Aku terus berusaha mencintainya seperti yang
engkau sarankan, Meisha. Dan besok aku akan
memberikan surprise untuknya, aku
akan membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia
tidak lagi naik motor
kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan
jiwaku….* Meisha menatap Mario yang tampak semakin
ringkih,
yang masih terduduk disamping nisan Rima.
Diwajahnya tampak duka yang
dalam. Semuanya telah terjadi, Mario. *Kadang kita baru menyadari mencintai
seseorang, ketika seseorang itu telah pergi
meninggalkan kita.*
Jakarta, 7 Januari 2009 (dedicated to my friend....may
you rest in peace...)

0 Comments:

Post a Comment

silahkan anda berkomentar

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home